Di Sekolah Menengah Andalan, semua orang mengenal Rain . Cowok tinggi dengan senyum tipis, otak encer, juara olimpiade, ketua OSIS, sekaligus idola yang namanya selalu berbisik di lorong sekolah. Rain seperti hujan pertama di musim kemarau, dinanti, dikagumi, dan selalu membawa decak kagum ke mana pun ia melangkah. Dan di antara kerumunan pengagumnya, ada Aruna . Gadis biasa. Tidak populer. Nilai rapornya standar. Rambutnya selalu diikat seadanya. Tidak ada yang istimewa, kecuali satu hal: ia jatuh cinta pada Rain, diam-diam, tanpa pernah berani berharap. Aruna pertama kali menyadari perasaannya saat duduk di bangku perpustakaan, memandangi Rain yang sedang berdiskusi dengan guru. Cara Rain berbicara tenang, matanya penuh keyakinan. Saat itu, jantung Aruna berdetak aneh seolah ada lagu yang tiba-tiba diputar di dadanya. Sejak hari itu, Aruna menjadi penonton setia dari kejauhan. Ia duduk di kursi paling belakang saat Rain presentasi. Ia berdiri di lorong ketika Rain lewat. Ia menyimpan...