Di Sekolah Menengah Andalan, semua orang mengenal Rain. Cowok tinggi dengan senyum tipis, otak encer, juara olimpiade, ketua OSIS, sekaligus idola yang namanya selalu berbisik di lorong sekolah. Rain seperti hujan pertama di musim kemarau, dinanti, dikagumi, dan selalu membawa decak kagum ke mana pun ia melangkah.
Dan di antara kerumunan pengagumnya, ada Aruna.
Gadis biasa. Tidak populer. Nilai rapornya standar. Rambutnya selalu diikat seadanya. Tidak ada yang istimewa, kecuali satu hal: ia jatuh cinta pada Rain, diam-diam, tanpa pernah berani berharap.
Aruna pertama kali menyadari perasaannya saat duduk di bangku perpustakaan, memandangi Rain yang sedang berdiskusi dengan guru. Cara Rain berbicara tenang, matanya penuh keyakinan. Saat itu, jantung Aruna berdetak aneh seolah ada lagu yang tiba-tiba diputar di dadanya.
Sejak hari itu, Aruna menjadi penonton setia dari kejauhan. Ia duduk di kursi paling belakang saat Rain presentasi. Ia berdiri di lorong ketika Rain lewat. Ia menyimpan potongan kecil momen Rain dalam ingatan, seperti mengoleksi hujan yang tak mungkin ditadah.
Namun Aruna tahu batasnya.
Rain bersinar terlalu terang. Sementara dirinya… hanya bayangan biasa. Ia bukan gadis yang pantas berdiri di samping cowok seperti Rain. Maka cintanya ia lipat rapi, disimpan di sudut hati, tak pernah dibuka.
Waktu berjalan. Masa SMA hampir berakhir.
Hari kelulusan tiba. Semua murid bersorak, berfoto, saling bertukar kenangan. Rain dikelilingi banyak teman, banyak tawa, banyak masa depan yang menjanjikan.
Aruna berdiri di kejauhan, menggenggam secarik kertas kecil di sakunya sebuah surat yang tak pernah jadi ia berikan.
Isinya sederhana: “Aku suka kamu, Rain. Dari dulu.”
Tapi surat itu tetap tinggal di sakunya. Tak pernah keluar. Tak pernah dibaca.
Karena Aruna tahu, jika ia mengungkapkan rasa itu, ia akan berharap. Dan berharap pada sesuatu yang tak mungkin hanya akan melukai lebih dalam.
Rain mendekat, kebetulan berdiri tak jauh darinya.
“Aruna, terima kasih ya selama ini,” kata Rain ramah. “Semoga kita semua sukses nanti.”
Aruna tersenyum kecil. “Iya, Rain. Semoga kamu selalu bahagia.”
Itu saja. Tidak ada pengakuan. Tidak ada drama. Hanya dua kalimat yang terdengar biasa, tapi menyimpan ribuan perasaan yang tak terucap.
Setelah hari itu, mereka berpisah. Kuliah di kota berbeda. Hidup bergerak ke arah masing-masing. Rain menjadi sosok hebat seperti yang semua orang bayangkan. Aruna menjalani hidup sederhana, bekerja, tertawa, kadang lelah, kadang bahagia.
Namun di malam-malam tertentu, saat hujan turun pelan, Aruna teringat.
Tentang cowok cool yang pernah menjadi semestanya. Tentang cinta yang tak pernah tumbuh menjadi cerita. Tentang perasaan yang harus ia kubur, bukan karena ia tak sayang, tapi karena ia terlalu sayang.
“We can’t be friends,” bisik hatinya suatu waktu. Bukan karena benci. Tapi karena jika terlalu dekat, hatinya akan kembali berharap pada sesuatu yang tak pernah ditakdirkan.
Melepaskan adalah bentuk cinta paling sunyi.
Aruna tidak pernah benar-benar move on sepenuhnya. Tapi ia belajar menerima. Bahwa ada cinta yang cukup disimpan. Ada rasa yang cukup dirasakan sendiri. Ada nama yang cukup dikenang diam-diam.
Dan Rain…
Akan selalu menjadi hujan pertama yang pernah singgah di hatinya.
Indah, singkat, dan tak pernah bisa dimiliki.

Comments
Post a Comment