Rain adalah definisi sempurna dari kata idola. Tinggi, tampan, pintar, atlet basket sekolah, dan senyumnya bisa membuat koridor penuh bisik-bisik kecil penuh harap. Cewek-cewek berebut perhatian. Bahkan guru pun sering memujinya. Reputasi Rain nyaris tanpa cela.
Lalu ada Aruna.
Cewek biasa. Nilainya tak pernah menonjol. Namanya jarang disebut. Ia bukan tipe yang disorot, lebih sering duduk tenang di pojok kelas, menulis sesuatu di buku catatan kecilnya. Tidak cerdas, tidak berprestasi, tidak populer. Nyaris tak terlihat.
Aneh rasanya, justru pada Aruna-lah mata Rain sering berhenti. Ada ketenangan di cara gadis itu tersenyum kecil, ada kesederhanaan yang tidak dimiliki dunia gemerlap sekitarnya. Rain jatuh hati. Diam-diam. Dalam cara paling rahasia.
Namun Rain tahu, perasaannya adalah risiko.
Bagaimana jika teman-temannya tahu?
Bagaimana jika reputasinya runtuh hanya karena menyukai gadis yang dianggap “biasa saja”?
Ia memilih menyimpan rasa itu rapi, seperti surat yang tak pernah dikirim.
Sampai suatu sore, Rain melihat Aruna di ujung lorong sekolah. Gadis itu duduk menekuk lutut, wajah tertutup lengan, bahunya bergetar. Tangisnya pecah pelan, seolah tak ingin ada yang mendengar.
Hati Rain mencelos. Ia ingin mendekat. Ingin duduk di sampingnya. Ingin mengusap bahunya dan berkata, “Semua akan baik-baik saja.”
Langkahnya sempat bergerak satu tapak. Namun bayangan tatapan teman-temannya menghentikannya. Bayangan bisikan-bisikan, tawa mengejek, reputasi yang runtuh.
Rain menelan napas berat. Lalu… berbalik pergi.
Langkahnya menjauh dari lorong itu, tapi rasa bersalah melekat di dadanya. Ia meninggalkan sekolah dengan kepala tertunduk, membawa beban yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun.
Malamnya, di kamar yang sunyi, Rain mengambil gitar. Jari-jarinya memetik pelan, dan suaranya pecah lirih menyanyikan lagu yang seolah berbicara untuknya.
“Come stop the crying, it'll be alright
Just take my hand, hold it tight
I will protect you from all around you
I will be here, don't you cry…”
Ia memejamkan mata.
Membayangkan Aruna mendengar kata-kata itu.
Membayangkan dirinya benar-benar duduk di samping gadis itu.
“'Cause you'll be in my heart
Yes, you'll be in my heart
From this day on, now and forevermore…”
Suara gitar mengisi ruang, tapi hatinya tetap kosong.
Ia tahu, dunia mungkin tak akan mengerti.
“Why can't they understand the way we feel?
They just don't trust what they can't explain…”
Rain tersenyum pahit.
Benar. Mereka tak akan mengerti.
“Don't listen to them, 'cause what do they know?
We need each other to have and to hold…”
Namun keberanian itu hanya ada di lagu, bukan di kenyataan.
Petikan terakhir berbunyi pelan.
“You'll be here in my heart always…
Just look over your shoulder…
I'll be there always…”
Rain menurunkan gitar ke pangkuannya. Ia menatap langit di luar jendela. Di sekolah, ia adalah idola. Di kamarnya, ia hanyalah seorang lelaki yang mencintai… namun tak berani mengulurkan tangan.

Comments
Post a Comment