Rain adalah definisi sempurna dari kata idola. Tinggi, tampan, pintar, atlet basket sekolah, dan senyumnya bisa membuat koridor penuh bisik-bisik kecil penuh harap. Cewek-cewek berebut perhatian. Bahkan guru pun sering memujinya. Reputasi Rain nyaris tanpa cela. Lalu ada Aruna . Cewek biasa. Nilainya tak pernah menonjol. Namanya jarang disebut. Ia bukan tipe yang disorot, lebih sering duduk tenang di pojok kelas, menulis sesuatu di buku catatan kecilnya. Tidak cerdas, tidak berprestasi, tidak populer. Nyaris tak terlihat. Aneh rasanya, justru pada Aruna-lah mata Rain sering berhenti. Ada ketenangan di cara gadis itu tersenyum kecil, ada kesederhanaan yang tidak dimiliki dunia gemerlap sekitarnya. Rain jatuh hati. Diam-diam. Dalam cara paling rahasia. Namun Rain tahu, perasaannya adalah risiko . Bagaimana jika teman-temannya tahu? Bagaimana jika reputasinya runtuh hanya karena menyukai gadis yang dianggap “biasa saja”? Ia memilih menyimpan rasa itu rapi, seperti surat yang tak pernah di...
Rain Di sekolah ini, namaku selalu disebut-sebut. Rain. Cowok yang katanya keren, pintar, tenang, idola banyak orang. Aku sudah terbiasa dengan tatapan kagum, bisik-bisik di lorong, hingga pesan manis yang datang tanpa diminta. Tapi jujur saja, aku lelah. Banyak dari mereka terlihat perhatian. Tertawa di setiap candaku, berpura-pura peduli pada hal-hal kecil tentangku. Namun aku tahu, itu bukan ketulusan. Itu hanya kekaguman pada citra yang melekat padaku. Bukan pada diriku yang sebenarnya. Sampai suatu hari, aku memperhatikan seorang gadis yang nyaris tak pernah masuk dalam radar siapa pun. Aruna. Gadis biasa. Tidak populer. Tidak menonjol. Nilainya biasa saja. Pakaiannya sederhana. Tawanya pelan. Ia seperti bayangan di antara cahaya sorot panggung sekolah ini. Aneh, justru karena itulah aku memperhatikannya . Ia tidak pernah berebut duduk di dekatku. Tidak pernah mencari alasan untuk menyapaku. Tapi saat kami pernah satu kelompok tugas, aku mendengar cara ia berbicara. Tenang. Jujur....